FKIP – UMU Buton, 18 Juni 2025 – Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muslim Buton (UMU Buton) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Kurikulum sebagai bagian dari siklus Penjaminan Mutu Pendidikan (PPEPP) dalam rangka persiapan akreditasi tahun 2027.
Kegiatan ini menghadirkan pemangku kepentingan eksternal untuk memberikan masukan strategis terhadap pengembangan visi keilmuan dan struktur kurikulum. Dua narasumber utama yang hadir adalah Prof. Dr. La Dunifa, M.Pd., Guru Besar Universitas Dayanu Ikhsanuddin, dan Lukman, S.Pd., S.H., Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Baubau. Turut hadir perwakilan dari dunia pendidikan menengah, Charullah Mukmin, S.Pd.,Gr., Guru SMA Negeri 7 Baubau.
Dalam paparannya, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMU Buton menegaskan komitmen prodi untuk menjadi program studi yang berdaya saing global, unggul di tingkat nasional, serta menghasilkan lulusan yang berakhlakul karimah dan berkarakter entrepreneur pada tahun 2040.
Visi keilmuan baru yang diusung adalah menjadi pusat pengembangan keilmuan pendidikan bahasa Inggris yang unggul dalam pembelajaran berbasis TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) yang kontekstual dengan keragaman bahasa dan budaya lokal. Visi ini diwujudkan melalui tiga profil lulusan utama: (1) Pendidik (Educator) sebagai guru bahasa Inggris profesional, (2) Praktisi Bahasa (Language Practitioner) meliputi peneliti, dosen, penerjemah, dan pemandu wisata, serta (3) Wirausahawan (Entrepreneur) yang mampu mengembangkan bisnis berbasis komunikasi internasional.
Masukan Akademik: Perkuat Kurikulum yang Relevan dan Tidak Tumpang Tindih.
Prof. Dr. La Dunifa, M.Pd. memberikan apresiasi terhadap rumusan visi keilmuan yang dinilai sudah sangat bagus. Beliau menekankan agar fokus selanjutnya diarahkan pada implementasi misi untuk mewujudkan visi tersebut. Beberapa catatan penting yang disampaikan antara lain:
Pertama, perlunya peninjauan kembali mata kuliah yang tumpang tindih di rumpun kependidikan, seperti Perkembangan Peserta Didik, Psikologi Pendidikan, dan Strategi Pembelajaran. Kedua, penguatan visi entrepreneur membutuhkan penambahan bobot SKS atau mata kuliah kewirausahaan yang saat ini baru 2 SKS. Ketiga, mata kuliah Tourism direkomendasikan menjadi mata kuliah wajib, bukan pilihan, karena sangat relevan dengan kebutuhan daerah. Keempat, penamaan mata kuliah disarankan menggunakan terminologi umum yang dikenal asesor, seperti Speaking 1, 2, 3 dan English Grammar, bukan istilah yang terlalu spesifik seperti Speaking for General Communication.
Masukan Industri Pariwisata: Butuh Pemandu Wisata yang Mampu Bercerita
Sementara itu, Ketua HPI Kota Baubau, Lukman, S.Pd., S.H., menyoroti peluang besar lulusan PBI di sektor pariwisata. Ia mengungkapkan kebutuhan mendesak akan pemandu wisata bersertifikat di Baubau. Saat kapal pesiar The World bersandar, dibutuhkan 25 pemandu, namun yang tersedia hanya 14 orang.
“Peluang kerja tidak hanya sebagai PNS, tapi sektor swasta sangat terbuka. Tidak perlu grammarnya mereka yang sempurna, tapi mereka harus mampu berbicara dulu. You must be able to explain your hometown, your culture, local culture and local history,” tegas Lukman.
HPI menyatakan kesiapan menjadi mitra strategis Prodi PBI, termasuk membuka peluang sertifikasi pemandu wisata melalui kerja sama dengan BNSP, melibatkan dosen sebagai pemandu, serta bekerja sama dengan travel agent lokal di Baubau.
Sinergi dengan Sekolah: Respon Dampak Learning Loss
Perwakilan dari SMA Negeri 7 Baubau, Charullah Mukmin, menambahkan bahwa kemampuan dasar bahasa Inggris siswa saat ini masih sangat lemah sebagai dampak pembelajaran jarak jauh selama pandemi COVID-19. Ia mendorong adanya kerja sama antara Prodi PBI dengan sekolah-sekolah untuk program pendampingan, magang, micro teaching, serta penelitian dan pengabdian masyarakat.
Komitmen Tindak Lanjut, Menanggapi seluruh masukan tersebut, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMU Buton berkomitmen untuk:
- Melakukan revisi dan perombakan struktur kurikulum, khususnya mata kuliah yang beririsan.
- Menambah porsi mata kuliah yang mendukung visi entrepreneur.
- Menjadikan mata kuliah Tourism dan penguatan Speaking sebagai mata kuliah wajib.
- Menyeragamkan penamaan mata kuliah agar sesuai standar nasional.
- Segera menindaklanjuti penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan HPI, yang akan dirangkaikan dengan sesi Entrepreneur Wanted bersama Ketua HPI.
- Berkoordinasi dengan BNSP untuk fasilitasi sertifikasi pemandu wisata bagi mahasiswa dan membangun kerja sama dengan sekolah-sekolah di Baubau.
FGD ini diharapkan menjadi langkah konkret Prodi PBI UMU Buton dalam menghasilkan kurikulum yang adaptif, berbasis teknologi, kontekstual dengan budaya lokal, dan link and match dengan kebutuhan dunia kerja.






