Selama Datang FKIP UMU Buton

December 2022

GRAND LAUNCHING ENGLISH TUTORIAL PROGRAM (ETP)

KEGIATAN “ENGLISH ACTIVITY”GRAND LAUNCHING ENGLISH TUTORIAL PROGRAM (ETP) “Meningkatkan Kualitas Kampus Melalui Budaya Berbahasa Inggris dengan Tetap” Menghargai Kearifan Lokal   IBI UMU BUTON, 22/12/2022. Kegiatan English Activity dalam kegiatan “ Grand Launching English Tutorial Program (ETP)” dengan Tema “Meningkatkan Kualitas Kampus Melalui Budaya Berbahasa Inggris dengan Tetap Menghargai Kearifan Lokal”. Acara ini dibuka dengan resmi oleh Rektor UMU Buton Bapak DR. H. SUDJITON, S.E., M.M, yang dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton Drs. H. Ibrahim Marsela, M.M, Wakil Rektor I Ibu Antini Apriliana Nasrun, S.Pd., M.Pd, Plt. Direktur IBI Muhammad Filtar, S.Pi., M.P.W.K, para Dekan, Prodi, Dosen dan Mahasiswa. Era sekarang ini merupakan era melenial atau biasa kita dengar era 4.0, para kaum muda yang lebih banyak berkipra diberbagai bidang utamanya didunia entertain.  UMU buton memiliki kekhasan seperti salah satunya penggunakaan Bahasa Inggris sebagai Alat komunikasi di Kampus UMU Buton selain bahas Nasional kita. Darai awal ketua yayasan menyampaikan Ikon penting dari UMU Buton yaitu memberikan Ilmu Kewirausahaan, Bahasa Inggris dan ilmu Digital technology. Hari adalah launching resmi dari English tutorial program yang pelaksanaanya dalam bentul English Tutorial Program, kata Rektor UMU Buton. (Bapak Rektor UMU Buton (DR. H. Sudjiton, S.E., M.M, memberikan sambutan pada pembukaan dan meresmikan pertanda dimulainya kegiatan ETP di Kampus UMU Buton.) Cita-cita besar adalah harapan dan kepastian tentang kualitas sumber daya manusia, sehingga dalam visi UMU Buton ditetapkan penciptaan sumber daya manusia yang berahlakul karimah dan ikut terlibat dalam pembangunan bangsa, yang insya Allah akan terwujud dan akan adanya energy tambahan untuk mendorong terciptanya harapan dan cita-cita yang besar tadi, maka kampus UMU Buton becita-cita untuk menciptakan Mahasiswa yang bewawasan entrepreneur, English Skill dan kemampuan dalam digital technology. Upaya IBI adalah untuk mengembangakan kemampuan milenial sehingga memilik daya saing di Masayarakat nantinya. Jangan meilihat ini sebagai ajang ikut-ikutan, tetapi manfaatkan sebagai lading untuk mengais ilmu, sebelum saya tutup sambutan ini saya buka dan resmikan kegiatan ETP ini dengan ucapan bismillahi rahmanirahim. Untuk bisa bersaing di Era, 4.0, distrubsi,  saat ini perputarannya sangat cepat dan melibatan banyak orang. Dinamikanya begitu cepat sehingga harapannya selain keahlian prodi yang miliki tetapi penting saat ini mahasiswa memiliki kemampuan diluar program studi, Jelas Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton Drs. IbrahimMarsela, M.M. Bapak Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton (Drs. Ibrahim Marsela, M.M., memberikan sambutan pada pembukaan dan meresmikan pertanda dimulainya kegiatan ETP di Kampus UMU Buton. Kampus UMU Buton adalah kampus kita semua, UMU Buton berusaha selalu menciptakan insan akademis, intelektual, professional, berahlak dan berjiwa entrepreneur mandiri, hal ini dicanangkan dalam bangunan UMU agar sumber daya manusia Kepulauan Buton tercipta, terkader dan terampil sebagai keluaran proses belajar di UMU dan mampu membuka lapangan kerja, kata Ketua Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton. Satu kelemahan sumber daya manusia sekarang adalah kemampuan berbahasa asing, padahal setiap hari setiap saat kita berhadapan dengan penggunaan bahasa Inggris, dengan ETP ini kita pada akhirnya mampu memahami pentingnya bahasa Inggris seluruh bidang dan sector pekerjaan, disektor pertanian, sector peternakan, sector entrepreneur, sector bisnis, sector pendidikan seperti PGSD serta sector-sektor lainnya. Dalam proses belajar ETP ini nantinya materi cukup disederhanakan sehingga para mahasiswa mudah menyerap setip topic yang ingin dicapai, kegiatan ETP tetap setiap kamis, dan wajib setiap civitas akademis ikut, bisa dibagi dua kelompok yaitu kelompok mahasiswa dan dosen, sayapun akan ikut belajar dikelas para dosen dan tendik, untuk apa? Untuk meningkatkan kapasistas bahasa Inggris saya, tambahnya.              Grand Launching ETP merupakan realisasi program kerja IBI UMU Buton, yang merupakan bagian dari English Activity dalam bentuk kegiatan English Tutorial Program (ETP), program ini focus pada soft skill yang terdiri dari dua skill wraiting dan skill speacking, kegiatan ETP bertujuan memberi kemampuan berbahasa Inggris pada mahasiswa dan bersifat wajib dengan didampingi para tutor, sama halnya dengan kegiatan perkuliahan dalam satu hari yaitu hari kamis, jelas Plt. Direktur IBI UMU Buton Muhammad Filtar.   Foto dokumentasi Peserta Dekan, Prodi, Dosen, Tendik dan mahasiswa pada Grand Launching ETP. Menurut salah seorang mahasiswa prodi Bahasa Inggris, bahwa kegiatan IBI UMU Buton sangat produktif  sehingga kami mahasiswa butuh realisasi, karena terus terang diantara mahasiswa ini ada sudah cakap menulis bahasa Inggris dan juga kemampuan berkomunikasi “speacking” , namun satu hal adalah adanya kemampuan berbicara bahasa Inggris dan apa lagi memiliki kemampuan menulis, saya setuju dengan pendapat Plt. Direktur IBI bahwa dalam proses belajarnya nanti ddi fokuskan pada skill menulis dan berbicara, seumpama menulis sajaapa yang dilihat dilingkungan kampus ini dan kemudian dideskripsikan dalam sebuah bentuk cerita dan berkomunikasi, saya kira itu akan efektif, kata Alimin.             Usulan yang produktif, bahwa memang belajar bahasa Inggris itu ada rumit-rumit ada pula cara mudah untuk menguasainya, tentu area kampus UMU ini cukup untuk mengeksplor apa saja yang terlihat seperti gedung, masjid, kamar mandi, sekolah TK, dan juga aktifitas didalam ruang saat belajar, saya kira metode ini adalah cara mudah karena disamping mencatat dan berbicara maka berdiskusi dengan teman kelompoknya menyusun apa yang tercatat dalam bentuk topic cerita terstruktur, tutur Muhammad Filtar, S.Pi., M.P.W.K. Oke cukup demikian pertemuan ini, saya ucapkan terima kasih kepada semua yang hadir terutama sekali kepada Bapak Ketua Yayasan dan Pak rector yang telah meresmikan Kegiatan ETP hari ini dan selanjutnya kami akan melanjutkan dengan kegiatan ETP, Wabillahit Taufit Walhidayah Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

GRAND LAUNCHING ENGLISH TUTORIAL PROGRAM (ETP) Read More »

Pelantikan Ketua dan Pengurus HMPS Pendidikan Geografi

Sehubungan dengan agenda Keigatan FKIP Prodi Pendidikan Geografi mengadakan Pelantikan Ketua dan Pengurus HMPS Pendidikan Geografi Universitas Muslim Buton Periode 2022-2023, dengan ini kami beritahukan kepada Bapak/Ibu/Saudara/i bahwa pelaksanaannya akan dilaksanakan pada : Hari/Tanggal : Saptu, 24 Desember 2022 Pukul               : 08.00 WIB s/d Selesai Tempat            : Jl. Betoambari, Kampus A Universitas Muslim Buton Agenda             : Pelantikan Ketua dan  pengurus HMPS Pendidikan Geografi Universitas Muslin Buton Oleh karena itu diharapkan kepada Bapak/Ibu/Saudara/i untuk dapat kiranya mengajak dan memerintahkan kepada pegawai atau dosen di unit yang Bapak/Ibu/Saudara/i pimpin dan segenap seluruh warga Kampus UMU Buton untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Pelantikan Ketua dan Pengurus HMPS Pendidikan Geografi Read More »

STUDIUM GENERALE UMU BUTON

UMU ONLINE — Pembangunan karakter (character building) di dunia kampus, terutama di perguruan tinggi (PT), dilatarbelakangi oleh maraknya penyimpangan yang terjadi di ranah publik. Disorientasi nilai maupun disharmonisasi pada tataran kehidupan masyarakat kerap ditemukan. Selain itu, di tataran elite, ragam tindakan nirketeladanan dipertontonkan seperti perilaku koruptif. Dari perspektif sosial, budaya malu perlahan-lahan mulai hilang. Belum lagi sikap tak menghargai orang lain hingga timbulnya kekerasan di tengah kehidupan masyarakat.  Dalam konteks kemahasiswaan, semua pemangku kebijakan terkait dihadapkan pada persoalan untuk mengembalikan nilai-nilai luhur kepada setiap mahasiswa. “Oleh karena itu, pembangunan karakter ingin mengembalikan paradigma berpikir.  Agar mahasiswa itu tidak hanya pintar, berpengetahuan, dan unggul, tetapi juga bertanggung jawab dan beretika,” ujar Ketua Program Studi Pasca Sarjana Universitas Indonesia. Menurut KH Hanief Saha Ghafur, tantangan ini harus mampu dijawab oleh pihak kampus manapun. Pasalnya, sistem pendidikan yang ada sekarang dinilai tidak cukup untuk menjawab persoalan mendasar bangsa yang terkait dengan pembangunan karakter. Lebih lanjut menambahkan bahwa PT harus berkomitmen dalam mencetak lulusan yang berkarakter dan berintegritas agar mampu berkiprah dan bersaing di level global. Dengan pendidikan pembangunan karakter, diharapkan setiap lulusan kelak lebih memiliki sikap empati. Sikap empati, menurut KH. Hanief, merupakan salah satu kualitas karakter yang dapat mengubah dunia dunia. “Karena ketika seseorang memiliki empati, dia akan memiliki kepedulian terhadap tingkah laku yang diperbuat dan bagaimana memperlakukan orang lain,” sehingga KH. Hanief Saha Gafur menyarankan agar pendidikan karakter di kampus mengarah pada pembentukan individu mahasiswa yang memiliki integritas moral. Semua itu harus didukung budaya dan kebijakan kampus. “Nilai-nilai moral dalam keseharian mahasiswa harus mampu diaktualisasikan,” ujar KH Hanief. Dia mencontohkan aturan yang dimaksud. Misalnya, menegakkan integritas pada hal-hal yang berhubungan dengan plagiat dan vandalisme buku ajar. Di samping itu, kampus juga dapat membuat kebijakan antidiskriminasi. Seperti, memberi akses pada penyandang disabilitas untuk dapat menikmati pendidikan. Lebih lanjut, KH. Hanief mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasiswa harus dikembangkan. Tujuannya agar mahasiswa mampu memahami nilai-nilai secara objektif.  Dalam hal ini kampus menentukan prioritas nilai yang ingin dikembangkan. Kemudian, seluruh sivitas akademika, termasuk dosen dan karyawan, memahaminya sebagai hal penting untuk diperjuangkan. Karena itu, KH. Hanief mengungkapkan, pendidikan karakter tidak sekadar pelatihan kilat dalam bentuk outbond maupun aktivitas-aktivitas serupa. “Tetapi, lebih pada melatih mahasiswa melaksanakan nilai-nilai moral sebagai akademisi dan calon pemimpin bangsa”. Sejumlah kampus terus melakukan berbagai upaya untuk membangun karakter sivitas akademika. Salah satu bentuk ikhtiar yang dilakukan Universitas Universitas Muslim Buton menyelenggarakan studium generale yang bersifat berkelanjutan dan terjadwalkan. Peserta tidak hanya mahasiswa, tetapi juga dosen dan karyawan di lingkungan kampus.  Bahkan, orang tua mahasiswa pun berencana diundang dalam kesempatan-kesempatan selanjutnya. Pelatihan pembangunan karakter meliputi pemberian materi mengenai kepemimpinan, organisasi atau manajemen, keterampilan yang berkaitan dengan pengembangan minat dan bakat atau interpersonal skill, serta budaya akademik. Di samping itu, mahasiswa juga dibekali pengetahuan mengenai kemampuan menggunakan media teknologi informasi berbasis karakter. Misalnya dalam membangun komunikasi yang berkaitan dengan media sosial. Tidak hanya itu, materi mengenai kewirausahaan juga diberikan mengingat kaitannya dengan kemandirian sebagai bagian dari karakter. KH Hanief lebih lanjut  menyebut upaya pembangunan karakter yang harus dilakukan UMU Buton  arahnya adalah  membangun atmosfer kehidupan kampus dalam persepsi yang sama. “Atmosfer kampus yang dimaksud, yakni yang lebih mengedepankan kompetisi, kejujuran, profesionalisme, dan kepemimpinan yang berbasis ilmu dan karakter yang baik,”

STUDIUM GENERALE UMU BUTON Read More »

Pegang Teguh Nilai-Nilai Islam Aswaja UMU Buton Untuk Pembangunan Negeri

UMU OnLine-Seluruh Civitas akademika Universitas Muslim Buton (UMU Buton) harus memegang teguh prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah. Oleh karenanya, UMU Buton sebagai dilingkungan Nahdlatul Ulama (NU) berkomitmen untuk menebarkan ajaran Islam Rahmatan Lil’Alamin. UMU Buton harus yakin, dengan menganut paham tersebut, dapat meyakinkan khalayak umum sebagai kiblat pemersatu lokal, regional dan nasional bahkan dunia. Artinya, segala kegiatan di kampus mengimplementasikan ajaran islam yang ramah dan moderat, Hal tersebut disampaikan oleh DR. H. Hamzah Harun MA. Dosen UIN Makassar sekaligus Wakil Ketua Kopertais Wil VIII Indonesia timur. Dalam dunia kampus khusunya kampus NU ( UMU Buton ) mahasiswa sudah mayoritas paham dengan aswaja baik itu secara pengertian maupun mendalami cara gerakannya. Sebaliknya dikampus umum paham aswaja menjadi minoritas karena kebanyakan mahasiswa di kampus umum kebanyakan awam dengan aswaja karena terdoktrin oleh perkembangan zaman yang semakin maju. Karena zaman yang semakin moderen membuat mahsiswa begitu tidak peduli dengan itu. Aswaja merupakan salah satu teologi ke agamaan yang ada dalam islam. Menurut sejarahnya paham teologi ke agaaman ini di cetuskan oleh abu al hasan al-asy’ari dan imam Abu mansur al-Maturidi. Universitas Muslim Buton yang bisa di sebut juga kampus hijau yang berdiri pada 27 maret 1981 berdirinya universitas Muslim Buton di pelopori oleh para sarjana muslim yang berhaluan ahlul sunnah wal jama’ah.Universitas Muslim Buton merupakan lembaga pendidikan tinggi yang berbasiskan NU karena memang di dirikan oleh ulama ulama besar NU. Tujuan didirikannya universitas ini adalah mencetak generasi -generasi yang cerdas dan mampu menyeimbangkan ilmu dunia dan akhirat lembaga ini tidak mencantumkan nama NU dalam nama universitas yang menandakan bahwa generasi-generasi yang akan datang lebih memilih penamaan dengan nama universitas Muslim Buton (UMU Buton) Pendidikan tinggi secara umum mengahadapi transformasi dramatis dalam dekade-dekade abad lalu terdapat  bebrapa faktor   pendorong perubahan ini seperti globalisme, multikultularisme, demokratisasi, internet dan politisasi, namun demikian tidak ada faktor yang jauh lebih besar dan penting pengaruhnya dewasa ini   ketimbang kekuatan globalisme dengan globalisme  kita merujuk pada dasarnya arus kapital, barang, jasa, informasi dan mobilitas manusia yang bersifat lintas negara, yang berarti    semakin menguatnya peran dunia industri, yang disebut penyesuaian-penyesuaian berupa flektabilitas tenaga kerja dan merosotnya peran bangsa negara. Organisasi yang baik bermutu  bertolak dari visi, misi, dan tujuan. visi misi dan tujuan tersurat sangat jelas bahwa universitas Muslim Buton mencita-citakan lulusan mempunyai pemahaman yang holistik berkaitan dengan ahlul sunnah wal jamaah tidak hanya paham tentang sejarah akan tetapi menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Landasan mengusung visi, misi dan tujuan ahlul sunnah wal jamaah ini merupakan cita cita ulama besar yang telah mendirikan universitas Muslim Buton (UMU Buton) dan juga merupakan langkah perjuangan melestarikan nilai-nilai keagamaan berlandasan ahlul sunnah wal jamaah. Perlu di perjelas dan di batasi makna aswaja dalam konteks universitas Muslim Buton. Karna akhir-akhir ini banyak kita temukan berbagai elemen organisasi yang menanamkan diri “ASWAJA”. Namun fikrah nahdliya juga yang menjadi fikrahnya universitas muslim Buton berbeda dengan mereka yang banyak mengusung nama nama aswaja.Lulusan universitas muslim buton yang di cita-citakan mempunyai karakter islam ahlul sunnah wal jamaah sudah seharusnya civitas akademika yang ada memahami nilai-nilai aswaja dan menerapkan nilai-nilai aswaja itu dalam pembelajaran di ruang kelas.   Pembelajaran di kelas menjadi ukuran pembahasan mahasiswa. Oleh karna itu pengajar (dosen) harus meramu nilai-nilai aswaja ini dalam pembelajaran di kelas. Pemberian contoh secara langsung dalam konteks kehidupan pembelajaran di kelas akan memberikan pemahaman kepada mahasiswa yang harus di sepakati antara dosen dengan mahasiswa. Tidak mendahulukan self-interest terhadap salah satu mahasiswa, adanya deskripsi yang jelas, menerapkan pembelajaranyang sesuai dengan kemampuan mahasiswa, dan adanya alat evaluasi yang jelas  merupakan perbuatan yang bisa di lakukan di kelas, selain itu, menerapkan pemecahan bersama terhadap suatu persoalan, mengedepankan kebenaran bersama tidak menonjolkan egoisme dosen terhadap persoalan tertentu, menyeimbangkan antara materi yang ada di buku dengan konteks kehidupan masyarakat juga hal yang bisa di lakukan dalam rangka menerapkan nilai-nilai aswaja itu, singkatnya, penerapan nilai-nilai aswaja harus di sesuaikan dengan kondisi yang ada. Yang terpenting semangat atas nilai-nilai aswaja itu selalu ada dalam  sanubari dosen setiap kali mengajar di kelas dan di kehidupan universitas Muslim Buton Hal-hal yang bersifat doktrinal seyogyanya di tinggalkan karena kalau itu tetap dilakukan maka akan menjadi bahan yang hanya di pahami secara kognitif tanpa membawa dampak terhadap ranah efekti dan kehidupan sehari-hari. Chamami (2006) merumuskan aswaja dalam rangka membumikan  pada diri pelajar dengan sebutan tri komunikasi yaitu antara orang tua, pelajar (mahasiswa), dan lembaga, pelajar confildent dengan dirinya sebagai seorang patuh terhadap ajaran aswaja, orang tua memberikan motivasi dan lembaga ikut mendukungnya, misalnya dengan pelatihan, praktek lapangan, atau berinteraksi dengan ulama dan belajar dengan referensi aswaja yang ada. Jelaslah bahwa nilai-nilai aswaja yang menjadi cita-cita universitas Muslim Buton sebagaimana tertara dalam visi dan misi di tingkat masing-masing jurusan yang ada harus betul-betul mampu mengantarkan lulusan universitas Muslim Butn (UMU Buton) berkarakter islam ahlusunnah wal jamaah.   Tidak hanya sekedar  memasukkan aswaja mata kuliah wajib melainkan metodologi pengajaran di kelas kehidupan kampus baik dari civitas akademika dan mahasiswa yang ada tersistemik mengarah kepada nilai-nilai ahlusunnah wal jamaah itu. Sehingga penanaman nilai-nilai aswaja untuk mengantarkan lulusan berkarakter aswaja ini tidak hanya menjadi beban dosen agama saja melainkan semua dosen yang ada berkewajiban mengantarkan mahasiswa berkarakter ahlusunnah wal jamaah. Hal ini adalah salah satu potret kampus yang mengajarkan tentang perdamaian serta nilai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat,

Pegang Teguh Nilai-Nilai Islam Aswaja UMU Buton Untuk Pembangunan Negeri Read More »

SOSIALISASI EMPAT PILAR MPR. RI. PESERTA DOSEN DAN MAHASISWA UNIVERSITAS MUSLIM BUTON

UMU Online-Sosialisasi Empat Pilar MPR R.I. dilaksanakan dengan peserta mahasiswa berasal dari beberapa kampus di wilayah KEPTON dimana UMU Buton sebagai tuan rumah di Aula Hotel Mira dengan melibatkan seluruh mahasiswa UMU Buton, Program MPR   R.I  ini harapannya dapat tersosialisasi  kepada  mahasiswa, kegiatannya   berlangsung selama 1 hari yang dipercayakan pada Universitas Muslim Buton yaitu MPR Goes to Campus, dengan sosialisasi Empat Pilar secara indoor dan outdoor.  Kedatangan Anggota MPR R.I dipimpin langsung oleh  Ir. Waode Hamsina Bolu. Acara Sosialisasi Empat Pilar MPR R.I  dimulai pada jam 8,00 pagi  setelah terlebih dahulu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilajutkan dengan Do’a pembukaan. Universitas Muslim Buton  mengahdirkan sekitar 200 Mahasiswa  bersama sama dengan Para Wakil Rektor,  dan para Dekan, sementara dari pihak Yayasan Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton   dihadiri oleh  Ketua Yayasan  H. Ibrahim Marsela dan  Universitas  Muslim Buton diwakili Wakil Rektor 1, Rektor dalam sambutannya yang diwakili wakil rektor 1,  menyampaikan ucapan terimakasih atas kehadiran Ibu Wa ode Hamsina Bolu selaku anggota  MPR R.I dan dilanjutkan sambutan Ibu Hamsina Bolu  berharap bahwa  melalui acara  Empat Pilar MPR R.I akan menambah wawasan mahasiswa dalam pemahaman Negara kesatuan R.I ( NKRI)  dan memberikan kesempatan kepada Mahasiswa berdikusi langsung akan Materi Empat Pilar.MPR.R.I. Pada kesempatan yang sama, Ketua Pendidikan Indonesia Kepulauan Buton H. Ibrahim Marsela,  dalam sambutannya menyambut baik kegiatan ini yang dilakukan di Universitas Muslim Buton dan mengapresiasi kehadiran  Ibu Waode Hamsina anggota  MPR R.I dan  atas keterbatasan informasi sehingga pada hari ini hanya bisa dihadiri  sebagian mahasiswa. Selanjutnya  Inti Acara Sosialisasi Empat Pilar MPR.R.I  disampaikan dengan baik oleh Ibu Waode Hamsinan Bolu selaku anggota  MPR R.I dengan  memberikan pemahaman-pemahaman tentang berbangsa dan bernegara serta pemahaman tentang NKRI.  Dimana untuk menjadi Negara yang maju, tentu diperlukan manusia yang cerdas dan berintegritas, yag dapat menguasai teknologi, Ilmu yang hanya dapat diperoleh di Kampus sebagai kunci kemajuan  melalui pengetahuan dan pendidikan, maka bersyukurlah para mahasiswa yang bisa mengenyam pendidikan di Universitas Muslim Buton salah satu Pergurtuan Tinggi diwilayah KEPTON, yang telah membangun masyarakatnya melalui pendidikan.  Peran Kampus dalam kemajuan Bangsa  di Republik Indonesia  dan  yang menjadi pelopor kemajuan itu adalah Mahasiswa.  Membangun masa depan melalui Ilmu  bukan dengan harta kekayaan yang bisa habis yang sering malah membuat pertengkaran ditengah keluarga.  Masa depan adalah Ilmu yang kita miliki, maka bila sayang masa depan, rebutlah ilmu, seperti dikutip dari semboyan Bung Karno, bila tidak ingin menjadi kuli di Negeri sendiri  maka rebutlah ilmu.  Menyoroti massive nya korupsi, beliau mengingatkan bahwa  memiliki ilmu saja tidak cukup, namun harus ada trust, saling percaya dan saling menghormati , jangan mengukur segala nya dengan uang. Harus ada Nilai (values) sebagai dasar integritas, bukan hanya memperkaya tanpa memikirkan dari mana hasilnya. Kalau semua dinilai dengan uang, maka bediri berkat dari atas langit dan bumi tidak akan turun. Kita sebagai bangsa di dipersatukan Pancasila sebagai dasar Negara yang mempunyai kesamaan hak sebagai bangsa yang berdaulat. Mahasiswa sebagai agen perubahan bisa memberi pencerahan kepada Masyarakat. Dalam masa-masa pilkada sering terjadi money politics, kita harus hati-hati dan jangan sampai merasa berutang budi karena apapun yang  diberi oleh kandidat, harus kita cek siapa dia (track record nya), kita harus bijaksana. Betapa banyak pejabat yang tertangkap KPK, maka jangan dibiarkan terus berlangsung hal-hal yang tidak membangun Negara dengan kesadaran penuh, pilihlah pemimpin yang dengan penuh kesadaran, maka keberkahan dari langit dan bumi akan kita peroleh. Indonesia sudah merdeka 72 tahun, maka kita harus mempertahankan Ideologi Negara kita yaitu Pancasila, jangan ribut masalah suku, agama dan perbedaan, karena Indonesia ada melalui sejarah yang panjang dan dengan penuh perjuangan oleh seluruh rakayat Indonesia, Negara kita bukan milik satu golongan, tapi Bhinneka Tunggal Ika. Pemaparan Ibu Waode, sangat padat dengan nilai-nilai kebangsaan yang memotivasi para Mahasiswa untuk mencintai NKRI.  Acara selanjutnya adalah forum diskusi, beberapa pertanyaan pun dilontarkan para Mahsiswa  yang dijawab dengan jujur dan lugas, dan akhir acara pun berakhir  pada jam 15.00 dengan sesi photo bersama.

SOSIALISASI EMPAT PILAR MPR. RI. PESERTA DOSEN DAN MAHASISWA UNIVERSITAS MUSLIM BUTON Read More »

PENGUATAN NILAI BUDAYA LOKAL DI ERA MILENIAL

Dr. Tasrifin Tahara, Beri Kuliah Umum dihadadapan Mahasiswa Universitas Muslim Buton dengan Tema Penguatan Nilai Budaya Lokal Diera Milenial. UMU Online-Kata Dr. Antropolog Unhas itu bahwa, Sebagai bangsa, kita memiliki kosa-budaya yang begitu melimpah ruah. Apapun bentuk dan wujudnya, budaya bangsa tersebut merupakan dan menjadi modal dan identitas, benteng, serta sekaligus sebagai “paspor utama,” terlebih lagi, dalam tata pergaulan dan tegur-sapa global. Menjadi modal dan identitas karena dengan dan melalui budaya kita dikenal oleh dan memperkenalkan diri kepada bangsa-bangsa lain. Budaya merupakan modal dan identitas kita dalam berelasi dan berinteraksi dengan “yang lain,” yang bukan kita, liyan, the others. Pengakuan bangsa-bangsa lain atas tingginya nilai-nilai budaya yang kita miliki, misalnya saja, merupakan “paspor,” yang melegitimasi bahwa secara kultural kita sah bergaul dan berposisi setara dengan mereka. Sementara itu, proses berelasi dan berinteraksi dengan “yang lain” itu juga meniscayakan masuknya beragam nilai secara tak terhindarkan, yang dalam sejumlah hal acapkali bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah lama terinternalisasi dan diyakini. Dalam konteks inilah, nilai-nilai yang inheren dalam kosa-budaya bangsa berfungsi sebagai benteng. Akan tetapi, yang menjadi persoalan mengapa kecenderungan materialistik dan hedonik makin hari makin  mengedepan di tengah kehidupan masyarakat, dan bersamaan dengannya: nilai-nilai dan karakter kebangsaan kita juga terasa kian pudar (untuk tidak mengatakan dalam proses “mulai dilupakan”), padahal kita memiliki modal dan identitas, paspor, serta benteng budaya yang kokoh. Adakah yang salah dalam mengelola sistem dan mekanisme kebudayaan dalam konteks kebangsaan kita, dan sederet pertanyaan kultural lain. Masuknya beragam nilai yang berasal dari “luar” (sebagai “pusat”) melalui beragam piranti modern, sebagai akibat yang tak terhindarkan dari proses global,  telah memberi warna dan corak tersendiri pada sendi-sendi kehidupan budaya bangsa. Derasnya arus global dari pusat ke “pinggiran” antara lain mengakibatkan munculnya situasi “ketertinggalan budaya,” dan sangat mungkin, “longsor budaya.” Ketertinggalan budaya melanda sebagian besar masyarakat negara berkembang (sebagai “pinggiran”) dalam upayanya mencapai strata modernis bersamaan dengan membanjirnya informasi. Simbol budaya baru, kadang-kadang, diberi makna tidak pada tempatnya. Teknologi yang berkembang begitu pesat dan canggihnya juga menyebabkan pola komunikasi masyarakat berubah dengan cepat. Pengetahuan dan pengalaman manusia dibentuk oleh berbagai informasi yang dapat disimpan dan ditransmisikan dengan kecepatan yang begitu dahsyat dan dapat menjangkau kawasan yang begitu luas. Bahasa lisan digantikan peranannya oleh citra-citra visual. Sikap utilitarian, materialis, dan hedonis mengedepan berbarengan dengan munculnya pergeseran yang terus-menerus. Akibatnya, pandangan dunia masyarakat pun pecah, tercabik, dan salah-tempat (dislokasi). Ini semua bisa diperhitungkan sebagai tantangan sekaligus ancaman bagi nilai-nilai, karakter, dan identitas bangsa. Proses persemukaan, persinggungan, dan “persetubuhan” budaya yang tengah dan akan terus terjadi tersebut benar-benar akan menjadi sesuatu yang membahayakan apabila di dalam sistem dan mekanisme kebudayaan dalam konteks kebangsaan tidak disediakan ruang, peluang, atau kemungkinan perubahan. Karena apa? Sesuatu akan menjadi langgeng bilamana dirinya terbuka bagi perubahan dan pembaharuan. Dalam hubungan ini, berpikir dan bertindak strategis pun menjadi penting dan mendesak. Perancangan dan pelaksanaan berbagai upaya yang muara akhirnya pada terciptanya kekenyalan identitas bangsa dalam menghadapi dan memasuki berbagai proses tersebut perlu segera dilakukan agar nilai-nilai budaya dapat dirawat selayaknya dan yang mulai pudar akan dapat dicahayakan kembali. Ketika muncul kesadaran bahwa yang lokal selalu menjadi korban marginalisasi sehingga terpinggirkan, seluruh masyarakat (etnik) yang ada merasa perlu meredefinisi diri sendiri dan budayanya. Memasuki “kandang” budaya lokal, di satu sisi, dapat diperhitungkan sebagai dasar bagi upaya menciptakan situasi sadar budaya bangsa. Hanya saja, tindakan ini bisa saja memunculkan paradoks di sisi lainnya, yakni ketika ia ditafsirkan secara linear bahwa kita akan hidup di masa depan, bukan di masa lalu. Bahkan, ketika proses ini menjadi eksklusif, ia menjadi tantangan tersendiri karena yang tercipta bukan lagi kesadaran bersama dalam konteks nation state, melainkan semangat etno-nasionalisme. Oleh karena itu, orientasinya harus diarahkan pada kesejatian fitrah manusia sebagai pelaku yang sadar untuk bertindak mengatasi dunia dan realitas yang (mungkin bisa) memusuhi dan menindasnya, yang secara keseluruhan berada dalam bingkai kebersamaan dengan liyan (“yang lain,” the other). Konsekuensinya, sistem dan mekanisme budaya lokal dan translokal tetap harus dipelihara, dikembangkan, dan diberdayakan bersama. Persilangan dialektis antara liyan dan dorongan untuk mencipta dan mencipta ulang identitas lokal yang independen dalam suatu proses transformasi yang berkesinambungan menjadi imperatif untuk dilaksanakan. Tujuannya adalah menyiapkan sebuah habitat agar figur-figur yang terlibat di dalamnya mampu menghayati nilai lokal, dan sekaligus mampu membuka ruang tegur-sapa dengan liyan dalam dirinya: untuk menjadi lokal sekaligus translokal dan global. Pendek kata, agar masyarakat memiliki kekenyalan budaya yang memadai. Persoalan nilai lokal dan translokal tersebut memang memunculkan dilema: apakah nilai-nilai yang ada itu diolah secara kreatif (dalam arti didialogkan dengan nilai “yang lain”) melalui rekonsiliasi yang seimbang, atau  ia dimanfaatkan begitu saja sehingga terjadi homogenisasi nilai dan sekaligus dominasi atas nilai yang lain melalui melalui rekonsiliasi subordinasi. Yang jelas, upaya apapun yang dipilih dan dilakukan hendaknya tidak terjebak menjadi upaya penghapusan melalui rekonsiliasi eliminasi. Kebijakan apapun yang diambil dan mengatasnamakan kepentingan publik, karenanya, kebijakan itu harus selalu didasarkan pada wawasan kultural. Situasi polifonik dan multikultural harus menjadi dasar utamanya. Implikasinya, habitat budaya kewargaan yang sehat harus disiapkan, yakni suatu habitat yang meniscayakan tersedianya ruang dan peluang bagi partisipasi penuh dan interaksi yang terbuka bagi semua unsur masyarakat yang beragam. Hal tersebut penting karena mereka yang tetap menghayati nilai-nilai budaya lokalnya dikhawatirkan akan menjadi kaum marginal yang kurang dimunculkan dalam konstelasi informasi translokal dan global, dan seringkali kurang diuntungkan secara material. Oleh karena itu, upaya membangun kesadaran terhadap adanya kearifan lokal sebagai sebuah realitas budaya, yang juga berfungsi dalam memposisikan identitas budaya, bagi masyarakat tertentu sebagai pencirinya, pada akhirnya harus menjadi spirit yang tidak boleh diabaikan dalam konteks menjaga nilai-nilai kebangsaan agar tidak pudar dan agar nilai-nilai itu tetap dihayati dalam situasi apapun. Sebagai bangsa yang bhineka, Indonesia memiliki dua macam sistem budaya yang keduanya harus dipelihara, dikembangkan, dan diberdayakan yakni sistem budaya nasional dan sistem budaya etnik lokal. Sistem budaya nasional adalah sesuatu yang hingga kini masih berproses terus. Sistem ini berlaku secara umum untuk seluruh bangsa Indonesia, tetapi sekaligus berada di luar ikatan budaya etnik lokal yang manapun. Nilai-nilai budaya yang terbentuk dalam sistem budaya nasional itu bersifat menyongsong masa depan. Dalam hubungan ini, kenyataannya, nilai-nilai tersebut hakikatnya merupakan “serat-serat irisan” yang terbentuk tatkala dua atau

PENGUATAN NILAI BUDAYA LOKAL DI ERA MILENIAL Read More »

ENTREPRENEUR WANTED UMU BUTON MENYEBAR VIRUS KEWIRAUSAHAAN

UMU Online- Zamrun SE, Msi,  berbagi pengalamannya menjadi seorang wirausaha dalam acara ‘Entrepreneurs Wanted’ yang digelar di hotel Mira BauBau, Universitas Muslim Buton. Putra Buton ini Sebagai seorang wirausaha sukses yang sudah menjalani usaha selama 15 tahun, tentu saja dalam menjalankan usahanya  pasti banyak seluk-beluk dalam berwirausaha. Zamrun pun tak segan menceritakan pengalamannya selama menekuni usanya kepada ratusan generasi muda (milenial) mahasiswa Universitas Muslim Buton yang hadir. “Saya tahu betul bagaimana cari modal usaha di awal-awal, kemudian kepalang keliling cari pembeli, perizinan yang rumit, mengisi SPT pajak, mengurus karyawan, membeli alat produksi,” ujar Zamrun. Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut, Zamrun mengajak para milenial untuk berinovasi mencari peluang-peluang usaha dengan cara-cara yang baru dan berbeda. Apalagi menurut data World Bank, saat ini jumlah wirausaha di Indonesia hanya sekira  0,18  persen. Sedangkan Singapura sebanyak 7 persen, Malaysia 7 persen, dan Thailand 5 persen. “Ke depan digital economy memberikan kesempatan ke anak muda. Lima tahun ke depan ada peluang” kata Zamrun. Zamrun sangat  mengapresiasi sejumlah wirausaha muda dikepulauan Buton  yang telah sukses memulai usaha dan memiliki brand value bernilai ratusan juta rupiah.. Melihat hal tersebut, Zamrun berpesan kepada para milenial Mahasiswa Universitas Muslim Buton  untuk berani mengubah paradigma dan pantang menyerah, bermental baja dan tahan banting dalam memulai usaha. Salah satunya dengan memanfaatkan kebebasan interaksi dan ekspresi tanpa batas dengan speed yang tinggi yang ada saat ini untuk terus belajar dan berusaha dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun. “Yang paling penting mengubah paradigma, setelah kuliah mau apa jangan sampai semua mau jadi pegawai. Jadilah entrepreneur sebagai pilihan, bukan keterpaksaan,” ujar Zamrun yang juga salah satu pengusaha sukses di wilayah KEPTON. Di akhir Paparannya, Zamrun membuka sharing session  dan berbincang-bincang edukatif dengan sejumlah mahasiswa  hadir. Di antaranya Ketua BEM UMU Buton, siswi SMA Negeri 4 Kota Baubau. Dalam interaksinya, Zamrun  terkesan dengan usaha beberapa mahasiswa UMU Buton yang sudah berjalan walaupun dengan omset yang relatif masih kecil. Turut hadir dalam acara Entrepreneur Wanted UMU Buton tersebut adalah Para Wakil Rektor UMU Buton, Kepala Lembaga dan Direktorat, Para Dekan Fakultas dan Sejumlah Dosen.

ENTREPRENEUR WANTED UMU BUTON MENYEBAR VIRUS KEWIRAUSAHAAN Read More »

Englis Camp

PENGUMUMAN Mohon perhatiannya.Untuk mengsuskseskan kegiatan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMU Buton kita, akan diadakan Englis Camp di Samparona yang melibatkan semua anggota Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, termaksud warga Universitas Muslim Buton, Dosen, dan semua pegawai. Kegiatan Ini juga di hadiri tamu dari luar Negeri. Mohon Doanya semoga kegiatannya berjalan lacar ya…. 🙂 Kegiatannya akan Berlangsung : Tanggal: 16 – 18 Desember 2022Tempat: Pine Forest Area Samparona (Hutan Pinus Samparona)Jangan sampai ketinggalan. Pastikan kalian terlibat dan mendapat informasi terbaik. Untuk info lebih lanjut, silakan hubungi Ibu TIKA (+62 851-4574-0912) Muhamad Firman Syah TI UMU Buton

Englis Camp Read More »